| ilustrasi : imultidimensi.wordpress.com |
Ghonim pun membuat laman facebook yang diberi nama 'We Are All Khaled Said'. Laman tersebut berisikan foto-foto mayat Khaled Said. Dalam waktu cepat laman Facebook tersebut meraup sekita 450ribu anggota. Ketika ia memposting sebuah video, video itu bisa dilihat oleh 60.000 orang di dinding mereka hanya dalam hitungan jam. Apa yang dilakukan Ghonim akhirnya membentuk sebuah opini publik tentang tindakan represif pemerintah Mesir.
Rakyat Mesir pun menemukan momentumnya. Keruntuhan diktator Presiden Tunisia yang bernama Ben Ali menginspirasi para pengguna jejaring sosial Mesir tersebut untuk menuntut Husni Mubarak mundur. Ghonim pun mengumumkan kepada anggota laman agar turun ke jalan pada tanggal 25 Januari. Ia juga ikut turun ke jalan, bahkan sampai harus diculik aparat selama 12 hari. Karena panik, internet pun akhirnya ditutup oleh pemerintah Mesir. Sayangnya, justru hal ini mengakumulasi peningkatan kemarahan rakyat untuk melawan pemerintah. Dan akhirnya, aksi Ghonim dan rakyat Mesir berhasil menumbangkan Sang Diktator pada 11 Februari 2011.
Berkaca pada kejadian tersebut banyak pengamat menilai peran internet sebagai komunikasi di era informasi menunjukkan fungsinya untuk memperjuangkan kebebasan berpendapat. Revolusi web 2.0 mampu membangun opini publik untuk menggerakan masa dalam penggulingan sebuah rezim. Namun, bukan berarti fecebook, twitter, dan berbagai produk web 2.0 sebagai pahlawan, melainkan hanya sebagai sarana mempermudah komunikasi atas tindakan represif dari kekuatan otokrasi yang selama ini menindas rakyat Mesir. Sarana tersebut akhirnya melahirkan gerakan demonstrasi jalanan (aksi masa) sebagai tumpuan utama menjatuhkan sebuah rezim.
Konteks Gerakan (Kampus)
Nampaknya, ruang kebebasan berpendapat ini tidak mendapat respon yang positif bagi aktivis gerakan kampus agar lebih proaktif membangun isu dan alat syiarnya. Kesan seorang aktivis kampus yang lebih banyak curhat, mengeluh, berpuitis cinta dan berbagai celotehan lainnya menunjukkan tidak adanya kesadaran kolektif untuk membangun basis gerakan informasi. Padahal, era web 2.0 dapat menjadi peluang yang baik untuk mencapai sebuah misi gerakan.
Memang, pemanfaatan teknologi web 2.0 bukan satu-satunya cara dalam menjalankan manajemen isu. Cara konvensional seperti fungsi humas, media organisasi, press release, seminar dan dialog hingga aksi pinggir jalan masih menjadi cara utama membangun isu ke publik. Namun bukan berarti harus mengandalkan cara konvensional itu saja. Aktivis gerakan kampus harus mulai merubah paradigmanya terhadap media jejaring sosial, tidak hanya sebatas ruang persahabatan, melainkan bisa menjadi sarana pembentukan jaringan informasi. Yaitu sebuah jaringan informasi yang mampu menciptakan dan mempengaruhi opini publik pada isu-isu tertentu, baik sebagai syiar, memfilter isu negatif, atau mempengaruhi audience.
Berkaca pada kasus Mesir, sarana media jejaring sosial telah membuktikan efektivitasnya dalam membagun isu ke publik. Memang selama ini media masa sepeti televisi dan surat kabar membuktikan keampuhannya dalam membentuk opini masyarakat. Sayangnya, media masa hanya dapat dimanfaatkan sebagai penyalur aspirasi si pemilik modal atau kepentingan politik dibaliknya. Berbeda dengan jejaring sosial, media ini memiliki fungsi yang sama, hanya saja bersifat individu. Sifat individu inilah yang memberikan ruang kebebasan suara tanpa harus tertekan dengan kepentingan pemilik modal dan penguasa. Ketika individu-individu tersebut berafiliasi dalam sebuah gerakan dengan wadah dan visi yang sama, bisa melahirkan basis gerakan informasi yang saling terkordinasi dan sinergis untuk ikut andil dalam pembentukan opini publik.
Sekali lagi, bukan membuat opini secara individu (semaunya sendiri), tetapi bagaimana setiap individu dalam gerekan tersebut saling terkordinasi untuk mengangkat isu yang sama. Yaitu isu yang dapat membentuk opini para penghuni media sosial secara konsisten, terencana dan terstruktur.
Kaskus Sebagai Contoh
Istilah alay (baca : sok gaul) dan maho (baca : homo atau bencong) merupakan kata-kata yang tidak asing di telinga para kaskuser. Kedua kata tersebut merupakan istilah buatan anak-anak kaskuser yang telah menjadi kosa kata populer dikalangan netter Indonesia. Kata tersebut telah menjadi sebuah definisi dengan konotasi negatif sebagai stereotip kepada orang-orang yang bergaya kampungan dan banci. Dengan secara konsisten dijadikan sebagai bahan ejekan, secara tidak langsung membentuk opini kesemua kalangan kaskuser bahwa kedua jenis tipe tadi adalah makhluk menjijikan.
Tidak hanya itu, para member kaskus bisa mudah membangun pengaruh ketidaksukaannya terhadap seseorang artis, tokoh atau kelompok tertentu dengan membuat thread (baca ; posting forum) kepada member lainnya. Dengan konsisten serta solid antar setiap member, opini tersebut menjadi isu yang mudah diterima oleh semua kaskuser. Contoh, bagaimana secara solid kaskuser tidak suka dengan artis yang bernama Olga Saputra dan media infotaiment. Roy Suryo pun selalu menjadi buan-bulanan bahan ejekan para kaskuser. Berbeda dengan Ahmadinejad yang telah menjadi tokoh favorit di Kaskus.
Itulah kekuatan forum kaskus, hanya dari beberapa orang mampu mempengaruhi opini ke orang lainnya sesama anggota forum tersebut untuk suka ataupun tidak suka terhadap suatu hal, meskipun para member tersebut bukan sebuah gerakan yang terencana. Secara tidak langsung, sebenarnya mereka telah melakukan fungsi propaganda (non politis). Sehingga fenomena kaskus telah memunculkan anak muda dari latar belakang yang heterogen dengan pola pikir dan kesenangan yang homogen. Hal ini membuktikan, bahwa media sosial juga bisa membentuk opini ke publik.
Artikel ini rencana akan dimuat di media komunitas KAMMI UII Jogja, mohon saran dan kritik bila terdapat kekurangan.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.