Jumat, 21 Januari 2011

Mencintai Dari Kekurangan

Mendengar judul yang terdapat kata cinta selalu dilambangkan dengan tulisan melankolis. Tidak, saya sedang tidak ingin membuat sebuah tulisan melankolis pada postingan ini. Ungkapan cinta yang saya berikan pada judul postingan ini adalah untuk menceritakan kembali kisah saya tentang mempelajari kata cinta itu. Bukan cinta pada lawan jenis, tetapi cinta pada sebuah organisasi kampus dan aktivitas saya ketika masih kuliah.

Kisah itu pun saya ceritakan dalam bentuk surat. Surat yang saya tulis untuk edisi surat kaleng. Surat kaleng adalah salah satu nama rubrik majalah dakwah kampus yang pernah saya kelola. Surat tersebut sebenarnya ditujukan untuk adik-adik angkatan yang sedang menjadi pengurus organisasi yang saya ceritakan pada surat tersebut agar mereka bisa mendapat hikmahnya. Dan, surat tersebut ditulis bertepatan pada milad organisasi itu. Berikut isi surat tentang kisah cinta itu, semoga bisa diambil hikmahnya.


Mengapa Aku Mencintai J.A.M
Edisi Surat Kaleng Milad JAM FE UII ke 18


Assalamualaikum,  bang.

Apa kabar, sudah lama aku tidak menulis surat lagi.
Abang tahu tidak kalau bulan ini JAM sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 18? Tidak terasa, sudah 5 tahun aku mengikuti jalannya umur organisasi dakwah kampus ini. Iya, sejak tahun 2005. Waktu yang cukup lama untuk menghasilkan cerita dan kisah perjalanannya. Meskipun keberadaan saya di JAM hampi ¼ umurnya, tiada alasan untuk mengatakan bahwa aku harus mencintai JAM. Bagaimana dengan abang sendiri?

Aku ingat dulu bang. Ketika masa Pekan Ta’ruf Fakultas, ketua JAM masa itu (Irfan 2003) mengenalkan lembaga ini. Yang terpikirkan di otak ku saat itu adalah nama lembaga ini jelek betul. Sungguh bang, aku tidak bohong. Tidak ada nama lain apa, kok bisanya disingkat menjadi J.A.M. Berbeda dengan kampus lainnya yang menurut ku cukup bagus. Pikiran jelek ku ketika itu juga berbuah manis. Sebab aku mendapatkan gantungan kunci JAM dari sang ketua karena aktif bertanya.

Dalam bayangan nama jelek itu pun aku harus tersedot ke dalam rekrutmennya. Takdir harus menemukan diriku dengan bapaknya JAM, Mas Abdi (2001). Pertama kali bertemu denganya ketika dia menjadi pendamping Ondi di kelas ku. Entah sejak ketemu dia, rasanya tangan ini sudah diborgol olehnya. Dia ternyata tahu kalau aku pernah menjadi aktivis dakwah sekolah.  Sehingga, tarikannya mengharuskan untuk masuk ke lembaga dakwah kampus yang memiliki nama jelek itu.

Tapi bang, mohon diralat. Aku masuk ke JAM bukan karena paksaan loh ya. Ada kesadaran yang harus aku lakukan ketika mengenal dakwah sejak SMA. Abang tahu sendiri, JAM adalah oranisasi dakwah. Maka tempat inilah yang akan menjadi sarana itu. Sarana untuk menjaga diri. Juga sarana untuk mengekspresikan diri. Seperti kata Hasan Al Bana, perbaikilah dirimu dan ajaklah orang untuk kebaikan.

Entah bang. Apakah saya harus mencintai lembaga dakwah ini? Sebab, kesadaran dakwah ku bukan dilahirkan dari organisasi ini. SMA Negeri 1 Balikpapan melalui Rohisnya yang mengajarkan ku. Dilihat dari kinerja JAM pun, juga disayangkan. Terkadang sedikit sekali dari rekrutmennya yang menghasilkan kader-kader dengan kesadaran dakwah. Pembinaannya lemah. Asal tahu saja bang, lembaga dakwah kampus tidak hanya sebagai organisasi yang menjalankan agenda syiar Islam. Tetapi juga wajib menghasilkan kader-kader yang memiliki kepribadian dai. Minimal kesadaran Islam bisa terbentuk. JAM masih jauh dari harapanku jika harus dibandingkan dengan rohis SMAku dahulu. Sehingga, apakah aku harus mempunyai alasan untuk mencintainya?

Aku tahu pikiran mu bang. Pasti abang akan berucap “ya itulah tugas mu di JAM”. Hmm.. okelah bang. Aku mencoba memahaminya. Ditengah cacian maki ku ke lembaga ini, pun aku harus tetap bagaimana berada di jalan ini. Waktu menakdirkan aku harus menjadi seorang kordinator badan khusus informatika. Yang mengurusi Sintaksis ketika itu. Cobaan itu juga muncul bang. Pertama, kepengurusan angkatan 2004 dan saya masih 2005 dipaksa menjadi kordinator. Jelas, ada apa ini? Dengan yakin saya berpikir, ini lembaga memang betul-betul kekurangan kader. Sehingga diriku yang belum pantas sudah harus mendapat kedudukan panas tersbut. Kedua, orang-orang yang ada di dalam lembaga ini susah untuk diajak bekerja. Males-malesan. Tidak pernah tepat waktu. Dikasih tugas banyak alasan. Apalagi disuruh kreatif.

Tambah lagi bang. Orang-orang yang ada di organisasi ini terkadang betul-betul menjengkelkan. Khususnya urusan waktu dan janji. Beuhh, jengkelnya minta ampun. Disuruh rapat tepat waktu sulit sekali. Dan yang paling menjengkelkan, ketika sudah menyatakan bisa untuk datang rapat, tiba-tiba saja dengan sepihak menyatakan tidak bisa datang disaat waktu rapat mestinya berlangsung. Disitu terkadang saya sering duduk termenung sendirian hanya menunggu harapan staf bisa datang rapat.

Belum lagi masalah SDM yang betul-betul manja. Jangan berharap banyak mereka memiliki manajemen eksekusi yang baik. Misi saja tidak punya. Tidak peka terhadap lingkungan dan masalah sosial. Cara berpikirnya pragmatis. Dan tidak punya kesadaran untuk bertindak. Masalah pengetahuan? Ah payah. Coba saja diajak ngobrol tentang isu sosial. Globalisasi, pluralisme, feminisme, liberalisme, ah paling tidak mengerti. Bisa jadi yang namanya Adam Smith mereka tidak tahu. Beda kalau bicarakan tentang nikah, akhwat (untuk yang ikhwan), beuuh.. lancarnya bukan main.

Semuanya itu terbukti setelah aku terjebak oleh rayuan kordinator kaderisasai (mba Dinda, 2004) untuk menjalankan tugas kordinator tersebut. Bencana pun datang. Sangat sulit untuk mengajak staf menghadiri rapat (syuro). Paling yang datang 2 – 3 orang dari 9 orang. Kadang tidak datang sama sekali. Kalau pun datang 1 orang itu juga telat. Program kerja tidak dijalankan. Kalau begini caranya bagaimana program mau jalan. Aku mutung bang. Mutung! Ancaman untuk berhenti pun sempat aku lontarkan ke ketua saat itu, Rukhan. Sehingga apakah aku harus mempunyai alasan untuk mencintainya?

“Lah, itulah tugas mu untuk merubah itu semua..” ah, lagi-lagi abang pasti berpikir seperti itu. Okelah bang. Aku mencoba untuk bertahan. Aku mencoba mencintainya dimulai dari kesabaran. Teringat kata mas Irfan, “jangan berharap apa yang JAM berikan untuk mu, tapi apa yang bisa kamu berikan untuk JAM”.  Dibalik kekurangan yang ada, disitulah mengapa aku harus mencintainya. Karena JAM pun ingin dimengerti.

Ternyata bang, memulai mencintai JAM dengan kesabaran ada hikmahnya. Ditengah menghadapi permasalahan, kupaksa otak untuk memecahkannya. Keluarlah ide kreatif. Iya bang, maaf. Tidak bermaksud riya. Tetapi aku merasa ini kreatif, hehe.. Yaitu ide agar sintaksis tetap terbit secara rutin ditengah kekurangan skill staf-staf ku. Sedikit mencontek BK. TPA yang sedang kompaknya. Ide itu adalah membentuk dewan redaksi tidak hanya dari staf B.K Informatika tetapi dapat di isi dari luar B.K. Baik sesama pengurus JAM maupun diluar JAM. Intinya bagaimana sintaksis tetap terbit. Alhamdulilah ide itu masih jalan hingga sekarang. Banyak lagi ide-ide gila di BK yang saya pimpin yang alhamdulillah di akhir kepengurusan dapat menjadi BK tersolid dengan anggota terbanyak. Sintaksis selalu berusaha tetap terbit sebulan sekali, dan menjadi majalah. Ini juga berkat keberadaan mas Wildan (2003) yang banyak membantu (ceritanya, dia orang yang kupekerjakan, hahaha..). karena itulah, aku sadar mengapa harus mencintai JAM. Sehingga aku bisa berpikir kreatif.

Mulai dengan cinta, aku pun harus mencoba bepikir lebih kreatif bagaimana turut serta membangun organisasi ini. Seperti kata mas Irfan tadi, apa yang bisa kita berikan untuk JAM. Beberapa upaya yang pernah ku lakukan adalah memperbaiki pencitraan JAM melalui kegiatan syiarnya.

Abang tahu latar belakang mengapa dulu ada program Sweet November? Itu karena JAM sering dilecehkan, khususnya oleh dekan kita melalui cerita Pak Bekti. Meski waktu itu aku menjabat sebagai kordinator Sintaksis, dengan lantang bicara ke ketua JAM saat itu (Emha, 2005), aku berencana membuat sebuah kegiatan dan langsung menjadi ketua panitiannya. Kebetulan akan bertepatan dengan milad JAM, maka ambil saja moment tersebut. Lalu aku pun merekrut orang-orang terbaik untuk menggelar event dengan anggaran hingga puluhan juta. Terundanglah Dedy Mizwar (rencana semula Andrea Hirata, karena suatu penyebab panitia bermanuver menjadi beliau). Peserta hampir lima ratus orang. Masuk koran lagi (Kedaulatan Rakyat). Dengan sombong aku pamer ke Pak Bekti “Pak kami berhasil, lain kali jangan pelit-pelit lagi ngasih uang kegiatan. Karena kami sudah membuktikan, bahwa kami bisa.”

Asal tahu bang, itu semua berkat kerja keras teman-teman panitia, seperti Novita (2005), Anggi (2006), Gisik (2005), Irma (2006), Citra (2006), Erin (2005), Sari (2005), Ririn (2005), Nurma (2005) dan Puput (2005; yang memberi nama Sweet November). Ngerikan bang, aku dikelilingi akhwat semua. Habis, ikhwannya gak tau pada kemana. Berkat mereka, kita bisa memberikan syiar yang terbaik bagi JAM.

Sampaikan salam ku buat mereka bang yang telah bekerja keras dan sampaikan juga maaf ku karena sudah menzalimi mereka dengan dengan tugas-tugas berat. Mereka tidak akan beristirahat sebelum menyelesaikan tugas yang ku berikan. Terkhusus buat Anggi dan Novita yang begitu sabarnya menghadapi seorang ikhwan yang galak dan terlalu banyak perintah seperti ku. Karena seperti itulah mereka bang. Dengan penuh kesadaran, bekerja keras demi pentingnya cinta kepada dakwah. Itulah, mengapa aku harus mencintai JAM. Cinta akan kerja keras.

Memang banyak alasan bang untuk bisa mencintai JAM. Karena mencintai JAM berarti kita juga mencintai dakwah Islam ini. Mulai dari cinta, pengorbanan itu muncul. Cinta selalu memberikan energi kepada jiwa-jiwa yang lelah akan perubahan. Kecintaan kepada Islam dan dakwah, mampu merayu para aktivis Islam bergerak tanpa kenal lelah untuk merubah lingkungan yang tidak sesuai dengan kondisi idealnya.

Bang, terkadang kita mulai mencintai karena kelebihan. Jika kekurangan itu nampak, maka rasa benci pun bisa muncul. Berbeda jika kita bisa mencintai meskipun kekurangan itu nampak. Maka keinginan untuk merubah dan memberi menjadi suatu dorongan. Lihat saja JAM, banyak kader-kader terekrut yang akhirnya tersisihkan. Jika dilihat dari faktor ekternal, bisa jadi karena mereka tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan. Mereka masuk JAM karena melihat kelebihan.

Berbeda denga dua ikhwan JAM seperti Nanda (2005) dan Harist (2006). Dua orang ikhwan yang pernah menjabat sebagai ketua takmir. Karena cintanya kepada masjid, hanya satu tujuan yang ingin dicapai di JAM. Yaitu meningkatkan pelayanan kepada jamaah masjid. Bertekad pada satu tujuan tersebut, munculah ide-ide yang melahirkan perubahan. Karena cintanya, lemari yang beratnya puluhan kilogram mampu terangkat sampai area serambi masjid. Jadilah perpustakaan. Karena cintanya kepada masjid, ambal sholat selalu harum, padahal dulu bau. Kipas angin pun bertambah demi suasana kesejukan. Sabun kamar mandi terjaga. Kajian pun juga hidup. Fasilitas sholat memadai. Dan masjid terasa nyaman.

Karena cintanya dengan JAM, beberapa alumni rela untuk lulus lebih lama demi menjaga pembinaannya. Sampaikan salam ku juga bang kepada mas Abdi (2001). Penjaga gawang JAM yang tidak pernah terlupakan usahanya. Begitu juga dengan mas Wildan (2003). Pengorbanannya demi menjaga para kader JAM untuk selalu menghasilkan ide-ide kreatif. Dia adalah murobbi para penulis JAM, katanya Marvita (2005). Baru setahun mas Abdi pergi meninggalkan JAM. Sebentar lagi mas Wildan. Entah apa jadinya JAM ke depan jika tidak ada almuni yang mempunyai kualifikasi khusus seperti mas Abdi dan mas Wildan.

Bicara soal alumni, memang masih banyak alumni yang terlalu cinta kepada JAM. Mereka merasa sulit untuk meninggalkannya. Mereka selalu hadir ketika kepengurusan dihadapkan oleh masalah. Rasa cinta itu melahirkan rasa gatal ditangannya ketika pengurus bermasalah.

Tetapi ada satu hal yang aku sampaikan kepada salah seorang diantara mereka. Jangan terlalu jauh membantu kepengurusan. Biarkanlah mereka para pengurus memecahkan masalahnya sendiri. Kita hanya sebatas membantu dari sisi ide dan pembinaan. Keputusan terserah mereka.

Dan Juga bang, karena cintanya terhadap JAM, beberapa alumni kita pun menemukan cintanya (jodohnya). Mereka menikah karena cintanya bersemi saat bekerja bareng. Mungkin untuk yang ini saya tidak ingin mencontohnya dengan alasan tertentu. Karena aku sudah berazam bang. Kecuali kepepet, hahaha…

Tetapi sayang bang. Begitu besarnya aku cinta kepada JAM, masih banyak yang belum ku perbuat. Masih banyak cita-cita besar yang belum tersampaikan. Namun saya juga harus sadar. Belum tentu apa yang kita perbuat merupakan sesuatu yang baik meskipun menurut kita itu baik. Bukannya memperbaiki malah bisa menghancurkan. Bisa jadi apa yang kita perbuat bukan karena Allah, tetapi nafsu pribadi. Dan karena itulah aku selalu berdoa, apakah dakwah yang aku lakukan sudah benar. Jika itu salah minta tolong kepada Allah, tunjukkan kalau itu salah. Jangan sampai kita menjadi duri dalam daging.

Begitu bang ya. Maaf kalau surat ku ini kepanjangan. Sebenarnya masih banyak yang ingin diceritakan. Tetapi kasihan abang. Pasti kelelahan membacanya. Mungkin ini akan menjadi surat terkahir yang aku tulis. Sebab sudah ada penggantinya untuk meneruskan cerita-cerita kepada abang tentang JAM dan kampus FE UII. Semoga pengganti ku dapat menceritakan yang lebih baik kepada abang.

Oya bang, ini aku kasih link video dari gambar-gambar para pengurus JAM masa lalu (periode 2006-2009), semoga bisa menjadi kenangan.[http://www.facebook.com/video/video.php?v=1751497145977]

Lalu bang, sampaikan salam ku kepada para mujahid JAM. Sudah waktunya aku tidak di situ lagi. Waktunya aku berkarya di lingkungan yang lebih besar. Yaitu negerinya para bedebah, pelacur, dan berbagai macam penyakit amoral. Ada cita-cita besar ku untuk negeri ini bang. Seburuk-buruknya negeri ini. Tetap aku ingin selalu mengatakan, AKU CINTA INDONESIA. Selama masih ada orang yang beriman dan cinta dengan dakwah, insya Allah, harapan itu masih ada.

Terakhir, ada yang ingin aku kutip dari buku ‘Mengapa Aku Mencintai KAMMI’ (judul yang aku contek bang, hehe..)  “Maka, cinta dan cita-cita tinggi itulah yang membangun semangat bergerak. Tanpa rasa cinta yang mendalam terhadap organisasi yang kita tekuni, kita tidak punya kemauan dan ketulusan untuk memberi dan berkorban. Ketika cinta itu tidak ada, maka organisasi hanya seperi zombi, kering dan sekedar menjalani ritual kewajiban keanggotaan organisasi.”

Karena itu bang, nikahkanlah mereka (orang-orang JAM) dengan dakwah. Lalu ajarkan mereka tentang cinta kepada dakwah.  Maka, mereka akan menikmati sensasi kenikmatan orang-orang yang beriman.

Wallahualam,
Wassalamua’laikum Wr. Wb.


Yogyakarta, 13 November 2010. Pukul 00.30
Salam dari,
Serambi Selatan


-------------------------------------------------------------------------------------------
Tentang Surat Kaleng :
Surat kaleng merupakan rubrik khusus yang ada di majalah sintaksis. Pengganti rubrik refleksi yang pernah tenar dijamannya. Surat kaleng berupa tulisan yang diisi seperti surat. Dan ditunjukkan kepada seseorang. Seseorang tersebut bersifat ilusi, atau bisa sebagai yang mewakilkan pembaca. Panggilan ‘bang’ agar terkesan adanya suasana keakraban. Biasanya surat kaleng berisi tentang isi hati si penulis terhadap beberapa masalah yang terjadi di lingkungan sosialnya. Khususnya kampus FE UII. Karena sifatnya yang subyektif menjadikan isi tulisan berdasarkan perspektif pribadi. Dan lebih diarahkan kepada kritik sosial. Penulisnya pun dirahasiakan, hanya redaksi majalah sintaksis yang mengetahuinya. Meskipun isinya seperti curhat, namun tulisan tersebut adalah upaya untuk merefleksikan dan memberikan hikmah serta pelajaran kepada pembacanya. Semoga saja surat kaleng kedepannya dapat memberikan manfaat yang lebih. Mohon maaf, apabila edisi yang dahulu terlalu kasar dan banyak membuat pihak yang tersingggung. Terimakasih atas segala masukannya.

Ridwan Hidayat, SE
Mantan penulis surat kaleng

1 komentar:

  1. ya mencintai dari kekurangan berarti juga kita menerima kekurangan pasangan..itulah yang dinamakan cinta

    BalasHapus

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger