Catatan Seorang Sarjana Manajemen Pemasaran
![]() |
| sumber ilustrasi : mandansetengah.blogspot.com |
Ilmu pemasaran bisa jadi hanya omong kosong. Kata omong kosong yang saya maknai sebagai ketiada gunanya ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Atau menurut Ippho Santosa dalam bukunya yang berjudul Marketing is Bullshit, pemasaran hanyalah omong kosong tanpa kreatifitas. Saya bukannya ingin menceritakan isi buku tersebut dalam tulisan ini, tetapi ingin membicarakan tentang ketiada gunanya ilmu pemasaran ini setelah lulus kuliah.
Hidup penuh dengan pilihan. Setiap pilihan pasti menanggung resikonya masing-masing. Takdir memberikan pilihan pada saya untuk menekuni ilmu manajemen pemasaran (di UII) setelah tidak diterima di teknik informatika (ketika tes di UII) dan ilmu komunikasi (ketika SPMB UGM). Lantas, bukannya saya kecewa atas kegagalan tersebut, karena bisa jadi, takdir yang diberikan Allah swt merupakan jalan saya untuk menjadi pebisnis (sedikit membanggakan diri).
Banyak hal yang saya temukan dalam mempelajari ilmu pemasaran. Berbagai teori Philip Kotler yang keluar dari ucapan dosen-dosen saya memberikan pengetahuan bahwa pemasaran tidak sekedar menjual barang, tetapi bagaimana barang tersebut ada dan memberikan kepuasan ke konsomen. Tidak hanya itu, teori psikologi pun harus dipelajari untuk memahami perilaku manusia sebagai ilmu pendukung pemasaran. Buku-buku Mark Plus dari Hermawan Kartawijaya juga saya lahab untuk mendukung pengetahuan ini. Maka, keahlian dalam analisis dan reaserch merupakan hasil pembelajaran yang saya dapatkan dalam mempelajari ilmu pemasaran.
Sayang, ilmu yang saya pelajari dengan pengorbanan modal hingga puluhan juta rupiah hanya menjadi omong kosong ketika ingin mencari pekerjaan. Kok bisa? Jelas bisa. Coba saja lihat berbagai lowongan pekerjaan yang mencari tenaga pemasar. Hampir semua perusahaan nasional ketika membutuhkan tenaga pemasar yang dicari adalah sarjana S1 dari berbagai jurusan, bukan hanya sarjana pemasaran saja. Artinya, tenaga pemasar tidak hanya lulusan pemasaran saja, tetapi jurusan selain pemasaran pun bisa menjadi pemasar. Sehingga terkesan tidak ada harganya lulusan pemasaran itu. Jelas ini mengindikasikan bahwa tenaga pemasar yang dibutuhkan bukan untuk memanfaatkan ilmu para sarjana tersebut, melainkan butuh tenaga penjual barang dengan label sarjana yang tidak ada hubungannya dengan ilmu yang dipelajari selama kuliah.
Itupun juga saya rasakan ketika sedang melalui proses seleksi sebuah lembaga keuangan. Mereka membutuhkan tenaga pemasar namun orang-orang yang masuk dalam rekrutmen tersebut banyak yang berasal dari jurusan lain. Salah satu proses seleksinya adalah kita dites untuk menawarkan sebuah produk. Dan dalam seleksi tersebut saya diterima. Tetapi dengan sangat berat saya tolak. Alasanya, pertama masalah ideologi, sebab merupakan lembaga keuangan yang masih ada unsur riba. Dan alasan yang lain adalah saya tidak bisa menjadi penjual dengan sistem target. Memang agak sedikit berpikir egois di sini, buat apa saya berlelah-lelah menjual barang (jasa dalam hal ini) yang keuntungannya hanya bisa dinikmati si pemilik perusahaan tersebut. Alasan ideologis bisa jadi sebab utama dalam kasus ini. Namun, walaupun masalah ideologis tidak menjadi alasan, tetap saja saya tidak mau. Jika pun harus menjadi karyawan, saya lebih suka bekerja mencari berita (jika kerja lapangan) atau sesuai dengan hobi saya, membangun sebuah web dan bermain internet (jika kerja dalam ruang yang sekarang sudah menjadi pekerjaan saya).
Atas kejadian tersebut, jika saya kuliah untuk tujuan mencari pekerjaan, maka saya akan mengatakan bahwa ilmu saya percuma. Buat apa menutut ilmu dengan biaya puluhan juta kalau hanya sekedar mendapat gelar sarjana dan bekerja dengan tidak menggunakan ilmu yang telah dipelajari. Dan kita akan berhadapan dengan perusahaan-perusahaan yang tidak menghargai ke-sarjanaan (baca : ilmu) kita saat diangkat menjadi karyawannya.
Kejadian yang tidak sesuai ilmu yang dipelajari saat kuliah dengan pekerjaannya setelah lulus merupakan hal yang lumrah di negara ini. Seorang teman lulusan akuntansi yang sekarang telah bekerja di sebuah BUMN pun pernah berkata di depan saya kepada temannya yang masih kuliah di jurusan yang sama agar tidak usah terlalu menguasai teorinya dikarenakan percuma saja, tidak akan digunakan ketika bekerja, yang penting cepat lulus.
Kebanyakan memang, orang yang diterima pekerjaan di perusahaan nasional dengan gaji mapan dikarenakan mereka memiliki kemampuan khusus diluar akademisnya, seperti keahliah dalam bahasa inggris, komunikasi, IQ, dan karakternya. Dan itu semua memiliki penilaian lebih dominan dibanding penilaian hasil akademisnya. Sehingga bisa saya simpulkan bahwa kampus tidak menyokong seseorang untuk sukses ditempat kerja. Kecuali jika memang bercita-cita untuk bekerja sebagai dosen. Terbukti, ilmu yang saya pelajari secara otodidak lebih menghidupi saya ketimbang ilmu yang dipelajari di kampus (web developer menjadi perkerjaan saya sekarang di salah satu penerbit buku Yogyakarta).
Dan sayangnya lagi, hampir semua sarjana di Indonesia sangat menerima keadaan ini hanya karena keterhimpitan ekonomi yang mengharuskan untuk bisa berpenghasilan. Sehingga terciptalah generasi pragmatis yang tidak menghargai (dengan terpaksa) ilmu pengetahuan.
Teringat perkataan mba saya ketika saya meminta saran tentang pilihan konsentrasi kuliah. Dia mengatakan kalau ingin bekerja di perusahaan pilihlah konsentrasi manajemen keuangan karena itu mempelajari ilmu teknis yang hampir mendekati ilmu akuntansi. Dan kalau ingin berbisnis maka manajemen pemasaran pilihannya. Saran mba saya itu karena pengalamannya yang telah bertahun-tahun bergelut mencari pekerjaan setelah lulus kuliah dari jurusan teknik industri di kampus ITN Malang. Karena ia pun juga sadar, ilmu di perkuliahan yang mengajarkan ilmu konsep tidak begitu mendukung untuk pekerjaan setelah lulus. Berbeda jika kita kuliah dengan mempelajari ilmu teknis (seperti kuliah D3).
Jika ingin bekerja kuasailah ilmu-ilmu teknis, karena pasar tenaga kerja Indonesia lebih banyak membutuhkan tenaga-tenaga teknis. Berbeda jika ingin mencari kehidupan sebagai peneliti, ilmuan dan semacamnya, maka kuasailah konsep ilmunya.
Hal inilah yang menyimpulkan saya bahwa jurusan manajemen pemasaran hanyalah omong kosong jika kita berniat menggunakan ijazah tersebut untuk mencari pekerjaan. Namun bagi saya, tidak ada kata percuma. Lebih baik berbisnis disamping pekerjaan penghidupan saya.

mas saya ambil jurusan manajemen pemasaran di salah satu universitas negri di sekitaran ciputat..hehe..
BalasHapusfakultas ekonominya sampai 2011 baru genap setahun,
dan sampai sekarang saya fikir pohon cabang ilmu di situ belum rimbung, cuma manajemen pemasaran tok, jadi saya memutuskan untuk belajar autodidak menjadi manajemen pemasaran internet.
karena jika manajemen pemasaran lebih banyak dibuat cabang lagi, saya kira itu akan lebih bermanfaat.
contohnya dalam fikiran saya :
manajemen pemasaran fokus branding
manajemen pemasaran fokus segmentasi
manajemen pemasaran fokus promosi..
dan sebagainya,...
terima kasih sebelumnya atas artikelnya yang menarik dan membuat saya nerfikir lebih keras untuk lebih memberdayakan keilmuan saya..
@ Ilmu Pemasaran ; makasih atas komentarnya, cukup menarik.
BalasHapusasalkan ketika masuk ke jurusan pemasaran jgn lupa tujuannya. Kalau sudah jelas tujuannya, nanti mudah utk mengembangkan ilmu apa yg perlu kita pelajari utk mendukung tujuan kita.
usul utk membuat cabang itu bagus, coba usulkan ke dosennya :D.
Sukses ya..
ya itulah dimensi perbedaan jika mas harus mencari dunia pekerjaan yg mengutamakan pekerja yg tulen berasal dari lulusan ilmu pemasaran. tp mungkin akan sangat berguna apabila mas mengolah kemampuan analisa mas dalam hal pemasaran melalui pekerjaan seperti asuransi atau membuka wirausaha. ataupun mengikuti MLM yg memiliki sistem yg baik. pemasaran itu bisa dipelajari oleh siapapun, namun tetap saja tidak bisa melebihi kompetensi org2 yg sudah sangat mendalami pemasaran dari pendekatan teori dan praktek yg terdekat hingga yg terjauh ( terdalam).
BalasHapus