Kekayaan, kehormatan, kedudukan bukan hal yang penting bagi pemuda yang satu ini. Keluarga yang kaya, hidup yang nyaman, pakaian yang selalu mengkilat, ketampanan, selalu memakai wangian yang termahal dan pujaan para gadis, merupakan keseharian yang di alami si pemuda Mush’ab. Lengkapnya Mush’ab bin Umair. Dia rela meninggalkan itu semua ketika kota Mekkah mengalami babak baru dengan berdaungnya kalimat tauhid. Hati nuraninya terpanggil ketika Muhammad -Rasulullah saw- mengantarkan kalimat “iqra” (bacalah) dari Maha Pencipta melalui Jibril. Entah mengapa, dia harus merasakan kegelisahan, ujian, cobaan dan cercaan yang dialaminya hanya untuk bisa mengikuti dan mendengarkan untaian kata dari mulut sang Rasul.
Ketika ia semestinya merasakan nikmatnya kasur empuk dengan diladeni para pembantunya, ia malah pergi ke suatu tempat, tempat yang kecil sekali. Dia harus duduk berhimpit-himpitan hingga bila duduk bersila maka setiap dengkul dari orang disebelahnya akan saling bertemu. Tempat ini adalah rumah Arqam bin Abi Arqam. Rumah yang menjadi markas kaum muslimin ketika awal-awal kelahiran Islam di bumi Makkah. Di rumah inilah, terbiasa para sahabat Rasul berkumpul melingkar, menuntut ilmu, dan mendengar untaian kata dari bibir sang Rasul.
Pertemuan rutin inilah yang menjadi hobi baru si pemuda kaya. Keinginan menjawab hati nuraninya untuk mengetahui kebenaran, harus ia perjuangkan untuk memperoleh keimanannya yang baru. Iman yang penuh dengan cobaan untuk meyakini dan mengamalkan. Dan Iman baru yang harus ia lantangkan kepada manusia-manusia yang masih hidup dalam kesesatan. Cobaan terhadap keimanan si pemuda ini pun mulai datang silih berganti. Mulai dari ibunya yang kemudian memenjarakannya di sebuah tempat terpencil, dua kali hijrah ke Habsyi, hingga pengusiran oleh ibunya yang tidak lagi sudi menganggapnya sebagai anak kandung. Ini juga berarti akhir dari kehidupan mewah dan perlente pemberian orang tuannya yang selama ini dinikmatinya. Begitulah, pemuda rupawan ini lebih memilih hidup miskin dan sengsara, dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari lapar demi cintanya pada Allah.
Mungkin ini cobaan yang harus dialami pemuda Mush’ab. Bagaimana dengan kita? Cobaan apa yang akan kita peroleh ketika kita hanya duduk manis mendengarkan ceramah. Hinaan apa yang akan kita peroleh ketika sekedar menasehati untuk sholat. Mungkin sebagian dari kita juga merasakan nikmatnya hidup seperti Mush’ab sebelum masuk Islam. Tapi apa salahnya, bila menyempatkan waktu luang untuk menuntut ilmu mendengarkan kalimat-kalimat Allah, sedikit menambahkan wawasan kita.
Suatu hari pernah beberapa orang Muslimin duduk di sekeliling Rasulullah SAW. Ketika mereka memandang Mush'ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata. Sebagian dari mereka tak kuasa menahan air mata karena rasa ibanya terhadap Mush'ab. Akan tetapi Rasulullah SAW melihat Mush'ab dengan pandangan penuh arti, rasa cinta kasih dan syukur. Sambil tersenyum beliau berkata : "Dahulu saya melihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuannya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."
Saya rasa mungkin ada satu hal yang pasti dipikirkan oleh Mush’ab. Kematian, yah kematian. Dia sudah berpikir, tidak selamanya kita akan selalu hidup senang dan selalu merasakan kenikmatan dunia. Dan Mush’ab pun sudah memikirkan apa yang harus ia rasakan setelah mati. Ketika ia sudah mengenal Tuhannya yang baru; Allah swt, semakin mantaplah keyakinannya akan kehidupan setelah ajal menjemput. Hanya ada satu upah yang akan menyelamatan kita setelah ajal. Yaitu amal. Sejauh mana amal kita yang sudah kita berikan. Dan Mush’ab pun tau, bahwa untuk beramal perlu sebuah modal, yaitu ilmu. Dan inilah yang menjadi sebuah hobi si pemuda kaya tersebut untuk menuntut ilmu kepada Rasul di rumah Arqam bin Abi Arqam.
Ada 3 tahapan amal yang harus dipenuhi oleh kaum muslim. Amal kepada Allah, amal kepada diri sendiri dan amal kepada sesama manusia. Ke tiga amal ini hanya dapat dikerjakan ketika kita memiliki pengetahuan dan ilmu yang cukup. Ketika orang tua kita berpesan agar belajar yang rajin dan dituntut untuk berprestasi dalam belajar, maka ini merupakan modal untuk memetik kesuksesan dunia. “ingin sukses, harus pintar” kata setiap orang tua kita. Yah, memang betul apa yang dikatakan orang tua, belajar untuk menjadi sukses di dunia adalah amal untuk diri kita. Tetapi untuk sukses di akhirat kita perlu beramal untuk Allah. Perbanyak ibadah dan menuntut ilmu Islam. Memiliki pengetahuan agama yang baik adalah modal agar kita selalu tertuntun untuk beribadah yang benar. Beramal hanya untuk akhirat saja tidak cukup, tetapi bagaimana kita bisa beramal di dunia. Sukses di akhirat pasti sukses di dunia. Sukses di dunia belum tentu sukses di akhirat.
Amal besar yang pernah dilakukan Mush’ab adalah ketika ia ditunjuk oleh Rasul menjadi duta di Madinah untuk mengajarkan Islam kepada sebagian orang-orang Muslim di Madinah yang telah menyatakan ke-Islamannya setelah peristiwa bai’at Aqabah. Dengan sifat zuhud, kejujuran, dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati hampir seluruh penduduk Madinah hingga mereka berbondong-bondong masuk Islam. Sehingga tidak heran jika Mush’ab terdaftar sebagai sahabat yang dijamin masuk surga oleh Allah swt.
Untuk menuntut ilmu memang membutuhkan pengorbanan. Ketika kita kuliah maka harus menghabiskan jutaan rupiah. Ketika ingin belajar Islam, apa yang kita korbankan? Pasti rasa MALAS! Dan waktu luang kita. Dan ketika ingin selalu taat kepada Allah, pengorbanan terberat adalah bagaimana melawan hawa nafsu ini. Apalagi berkorban untuk menyampaikan kebenaran. Musuh-musuh Allah selalu siap untuk membantai kita.
Apakah Anda ingin menjadi Mush’ab berikutnya? Wallahualam.
Tulisan ini juga di muat pada majalah sintaksis –media JAM (LDK) FE UII- edisi …. ?? lupa
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.