![]() |
| IG: ridwanhd |
Sudah beberapa minggu ini menyimpan kamera secara rapi di lemari. Aktivitas lain yang menyibukan membuat kegiatan fotografi ditunda sementara. Baru pagi ini saya coba kembali memeriksa kamera DSLR 550D yang saya beli 1,5 tahun lalu. Saya baru sadar, sejak 1,5 tahun memiliki kamera ini belum ada lebih dari 5 gambar yang memuat diri saya. Maka pagi ini, sesekali saya ingin menarsiskan diri dari tampilan rapi setelah sholat subuh, (mohon untuk tidak terpesona ya, saya gak ganteng-ganteng amat kok, hahaha.).
Saya senang fotografi tapi bukan hobi utama atau bukan aktivitas favorit. Kesenangan fotografi sebatas keisengan untuk mengabadikan pemandangan-pemandangan indah yang penuh memori. Biasanya saya pakai ketika mendaki gunung. Saya lebih suka mengambil gambar landscape alam, hewan, dari pada foto manusia yang bergaya. Saya sering menolak ketika ada seseorang yang minta difoto, atau sekelompok orang yang ingin difoto bersama. Sering kali, ketika ketemu moment itu, saya langsung menyembunyikan kamera. Kalau pun terpaksa karena 'gak enakan' saya minta orang lain yang ambil. Atau jika saya yang ambil dan file foto tidak diminta, segera saya hapus.
Ketika mengambil gambar manusia, saya lebih suka yang bersifat alami. Bukan gaya yang dibuat-buat. Maksudnya alami, adalah ketika ada aktivitas atau perilaku seseorang atau sekelompok orang yang menarik secara human interest. Seseorang yang saya ambil gambarnya ketika tidak ia sadari bahwa sedang di protret. Jadi benar-benar murni tanpa akting.
Memfoto manusia, terutama dewasa, dengan bergaya atau akting bagi saya bukan sebuah seni. Seni fotografi adalah ketika ada simbol tersirat dengan beragam makna dibalik gambar tersebut. Namun, untuk bisa menghasilkan gambar bermakna cukup sulit. Saya belum menjadi fotografer profesional. Untuk mendapatkan ide atapun moment yang menarik sulit sekali didapat. Jika pun bertemu moment menarik di jalan, selalu pas kebetulan tidak bawa kamera. Tapi rupanya, ada juga kawan yang memuji hasil jepretan saya, hehehe.
Sebenarnya hingga awal 2016, saya lebih banyak menyimpan hasil jepretan di dalam laptop. Hingga di awal tahun ini, seorang kawan menyarankan agar sering-sering mempublish hasil jepretan ke media sosial. "Manfaatkan saja instagram." katanya. Saya pertama kali membuat instagram tahun 2013 saat awal-awal mulai populer. Tapi karena terlalu banyak orang-orang Indonesia yang suka menarsiskan diri, instagram menjadi berubah fungsi. Saya tinggalkan saja media itu. Sejak saran kawan saya itu, saya pikir betul juga. Akhirnya saya mencoba mengaktifkan kembali social media sepesial gambar ini untuk mempublish hasil jepretan meski gak semua.
Bagi kawan saya ini, sebuah gambar yang dihasilkan adalah sebuah gagasan. Gagasan seperti perasaan, tidak baik jika selalu dipendam. Jika gagasan itu bermanfaat lebih baik disalurkan sebagai bentuk katarsis (beda makna dengan narsis). Dan salah satu fungsi sosial media terbesar adalah sarana katarsis itu. Hanya saja, penyaluran itu tak boleh berlebihan. Adakalanya perasaan-perasaan tak perlu diungkapkan. Meski bagi manusia yang memiliki jiwa katarsis yang tinggi itu sulit.
Kembali ke soal fotografi, media pengambil gambar atau kita sebut kamera adalah sarana untuk melahirkan estetika kehidupan. Keindahan adalah ketika ada rasa terpesona ketika melihat sesatu yang lahir dari sifat alamiah dan bukan dibuat-buat. Semoga, Anda tidak terpesona dengan foto saya ini. Sesekali mencoba menarsiskan diri, asal jangan sering-sering, bahaya! Hahahaha... (lagi kepedean)

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.