Minggu, 25 Oktober 2015

Hasrat dan Imajinasi Cinta


www.digaleri.com

Bener kata seseorang, cinta itu hanya dari imajinasi. Ia bukan gagasan. Bukan pula dari pikiran murni (akal). Tapi ia adalah hasil dari imajinasi dalam struktur pikiran yang dikendalikan antara akal dan hasrat. Lalu imajinasi memvisualisasikan cinta di dalam struktur kesadaran yang menghasilkan sebuah citra kesenangan, citra kebahagiaan pada pikiran. Kemudian berlanjut menjadi perilaku (akhlak) dalam interaksi.

Pengetahuan, ide, dan informasi yang masuk ke pikiran menjadi imajinasi. Akal dan hasrat pun bertarung mengendalikan imajinasi. Imajinasi ini pulalah yang menjadikan manusia subyektif, memiliki sudut pandang, perasaan dan persepsi yang relatif. Ketika hasrat menguasai imajinasi, maka akal tak lagi kuasa mengendalikan jiwa dan pikiran. Cinta hanya penuh hasrat. Imajinasi akan sebuah kebenaran dan realitas tertutupi. Karena hasrat-lah, manusia memiliki pilihan dalam menentukan takdirnya.

Saya terinspirasi menulis ini ketika sedang membaca buku Orientalisme karya Edward W. Said. Memang tak ada hubungan dari maksud tulisan di atas. Terinspirasi hanya karena apa yang dituliskan itu menjelaskan tentang gerakan orientalisme yang berhasil mengubah imajinasi masyarakat timur terhadap konsep realitas pada pemikiran atau cara pandang hidup manusia. Sang penulis menekankan, bahwa orientalisme bukan sekeder pembahasan sebatas kajian akademik, tapi menjadi sebuah gerakan masif poskolonialisme dari kelompok intelektual Eropa. Gerakan ini berupa aksi kebudayaan, sastra, hingga pemikiran ekonomi dan politik.

Saya pun berpandangan, orientalisme berkaitan dengan imajinasi. Barat memiliki imajinasi terhadap timur. Begitu juga timur memiliki imajinasi pada dirinya dan pada barat. Tapi, atas nama imperialisme, barat mampu menyebarkan imajinasinya ke sebagian orang timur yang tak mampu mengendalikan hasrat sehingga tergoda pada imajinasi barat yang penuh dengan gejolak hasrat. Imajinasi timur yang bersandar pada agama, terutama Islam, pun lahirkan wacana baru yang bernama sekulerisme dan liberalisme. Inilah produk ide yang lahir dari imajinasi yang gagal. Singkatnya, orientalisme berhasil merubah imajinasi terhadap konsep kehidupan, termasuk konsep cinta.

Begitulah, ketika imajinasi telah dikuasai hasrat, kebenaran dan realitas tertutup. Ide dan gagasan yang masuk tak mampu dikelola akal sehingga menghasilkan imajinasi yang salah.

Masalahnya itu ada pada hasrat. Hasrat bisa dikelola. Tapi ketika akal tak mampu mengendalikan gejolak hasrat, jiwa pun rapuh. Rusak. Seperti buah yang busuk. Tapi semua itu masih bisa diperbaiki.

Dalam konsep filsafat jiwa, Plato menekankan pendidikan dalam mengendalikan hasrat. Ia mendirikan tempat pendidikan yang bernama akademi. Lembaga pendidikan Plato ini bukan seperti sekolah-sekolah yang mengajarkan pengetahuan rasional/teknis seperti saat ini, tapi Plato lebih menekankan kepada pendidikan untuk mengekang hasrat dengan mengajarkan perilaku dan budi pekerti. Disitulah Plato mendidik anak manusia agar melahirkan generasi yang bijaksana (filosof).

Apa yang dilakukan Plato pun hampir mirip dengan konsep pendidikan Islam. Seperti yang diperjuangkan Syeikh Naquib al-Attas di abad modern ini, konsep pendidikan yang benar adalah konsep pendidikan yang mengajarkan adab. Bukan ilmu pengetahuan rasio atau keahlian teknis. Pemahaman akan adab mendidik kita memperlakukan ilmu pengetahuan secara benar dan jauh dari kesesatan berpikir. Seperti halnya Plato, dalam adab pun adalah upaya memanfaatkan akal mengendalikan imajinasi agar tak terkuasai hasrat, sehingga ruang kebenaran dalam berpikir dan berperilaku terbuka. Ilmu pengetahuan dari pemikiran yang benar dan bersandar pada akal sangat berpengaruh pada perilaku (akhlak). Makanya, di dunia yang semakin canggih ini bukannya menjadi baik, tapi justru dunia menuju kehancuran, karena hilangnya adab dalam proses pendidikan.

Tapi yang terpenting dalam Islam untuk mengendalikan hasrat adalah Tazkiyatun Nafs (Penyucian jiwa). Pengendalian hasrat tidak hanya upaya yang dilakukan manusia (dalam menuntut ilmu atau proses pendidikan), tapi ada peran kehendak Tuhan, yaitu hidayah. Langsung dari Allah. Datang atas kehendak Allah. Sedangkan Tazkiyatun Nafs adalah proses membersihkan jiwa dengan melakukan ibadah yang diperintahkan-Nya. Semakin kuat beribadah, berharap semakin banyak hidayah itu datang. Artinya, usaha kita dalam menutut ilmu, usaha dalam mensucikan diri, hingga datangnya takdir Allah berupa hidayah itu berjalan beriringan dan berkorelasi.

Bentuk Tazkiyatun Nafs tertinggi adalah Sholat. Di dalam sholat kita membaca Al Fatihah. Ada pujian, penghambaan, dan pengakuan atas kebesaran-Nya lalu diikuti dengan permohonan. Permohonan yang selalu kita baca berkali-kali dan berulang-ulang dalam Sholat (di surat Al Fatihah) adalah petujuk jalan yang lurus. Itulah bentuk penyucian jiwa dalam permohonan. Kita memohon terus petunjuk jalan kebenaran. Agar tidak sesat dan tidak menjadi dzalim. Maka, dalam mencari kebenaran hidayah-lah yang kita butuhkan sambil diikuti dalam proses menuntut ilmu.

Hidayah adalah ilmu yang bisa kita rasakan tapi sulit di imajinasikan. Hidayah membuka akal dan mampu mengendalikan hasrat ke hasrat yang di ridhoi. Karena datangnya dari Tuhan, maka kebenarannya adalah mutlak yang sebagian pengetahuan-Nya di ajarkan ke dalam kitab-Nya. Tertulisnya antara yang haq dengan yang bathil di dalam kitab-Nya menjadi pengetahuan manusia untuk mengendalikan hasrat dan melahirkan imajinasi yang benar. Sebab, tahu saja belum tentu menggunakan imajinasinya untuk berpikir dan berperilaku benar. Pikiran hingga berperilaku yang benar menjadi terbuka (hingga berbentuk amalan) jika ada dorongan hidayah atas kehendak-Nya.

Mengelola imajinasi dengan mengendalikan hasrat memang penting. Kita hidup diera informasi yang begitu banyaknya data, ide, dan kabar masuk ke pikiran. Informasi yang benar dan salah menjadi bias. Antara haq dengan yang bathil terlihat gelap. Selalu memohon petunjuk dan hidayah adalah cara utama dalam menemukan jalan yang benar.

Sekali lagi, pengetahuan kita lahir dari hasil imajinasi yang penuh dengan persepsi. Pengetahuan yang benar ketika mampu mengelola akal dan mengekang hasrat dengan bantuan hidayah Allah. Begitu juga halnya cinta, ia hanya produk imajinasi.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger