![]() |
| Ustadz Fadzlan Garamathan (foto: album FB Budi 'cc-line') |
Siapa yang tahu kalau ternyata ada pembodohan di daerah timur Indonesia sana. Juga siapa yang tahu jika terjadi kezaliman terhadap hak-hak untuk hidup beradab. Kesengajaan penguasa negeri untuk tidak memberikan kehidupan yang layak menimbulkan kesan bahwa masyarakat Papua adalah komunitas yang primitif. Atas nama menjaga budaya, mereka dibiarkan hidup telanjang dan melakukan kebiasaan-kebiasaan layaknya hewan.
Namun siapa yang menyangka, ternyata Islamlah yang membuat tanah Papua tetap bertahan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Islamlah yang mengembalikan mereka menjadi manusia yang beradab. Sebagai orang luar pulau, kita mengenal Irian terkenal dengan daerah yang kuat dengan tradisi agama Nasrani. Tetapi, kemunculan da’i bernama Ustadz. Fadzlan Garamathan membuktikan cerita lain. Ia tampil sebagai sosok ulama karismatik dengan misi mulia, yaitu melakukan perubahan menjadi manusia yang beradab pada masyarakat tanah kelahirannya.
Berbagai pandangan tentang Papua dan aktivitas dakwahnya ia ceritakan pada acara ‘Tabligh Akbar Jalan Dakwah Para Pejuang’ yang diselenggarakan oleh Pro-U Media bekerja sama dengan Masjid Jogokariyan, Jamaah Salahudin UGM dan Yayasan Dzikir Nasional PMJ pada Minggu, 17 April 2011 kemarin. Acara tersebut juga sekaligus memberikan Pro-U Media Award kepada Ust. Fadzlan sebagai jasa-jasanya menjadi Para Pejuang Dakwah. Tabligh Akbar ini bukan sekadar siraman rohani, namun juga kepada mengisahkan perjalanan beliau dalam melakukan dakwah di Irian Jaya. Juga membuktikan kepada masyarakat Muslim bahwa dakwah tidak hanya terjadi di wilayah barat dan tengah Indonesia saja, namun wilayah timur Indonesia pun juga mampu melahirkan para pejuang-pejuang dakwah.
Ust. Fadzlan menjelaskan bahwa Islam telah masuk ke negeri Irian sejak tahun 1214 ketika Iskandar Syah dari Samudera Pasai menginjakkan kaki pertamanya. Nuu War adalah nama yang diberikan sebagai nama Islam, artinya, negeri yang menyimpan cahaya rahasia. Sedangkan agama Nasrani masuk pada tahun 1885 yang kemudian diubah namanya menjadi Papua oleh para misionaris. Padahal nama tersebut merupakan nama yang buruk yang berarti hitam, keriting, pembunuh, pemerkosa, dan suka makan orang.
Kemudian, semenjak kemerdekaan Republik Indonesia, Papua berusaha diambil alih oleh para pemimpi negeri untuk masuk ke wilayah NKRI. Para pendiri Republik ini pun memberikan nama Irian yang juga memiliki banyak arti yang baik-baik. Namun, kata IRIAN lebih populer dengan arti: Ikut Republik Indonesia Anti Netherland. Meski begitu, para misionaris titipan Belanda berusaha membangun opini untuk memisahkan diri dari NKRI, namun kehadiran Islam di tanah tersebut menggagalkan usaha mereka.
Sayang, pada pemimpin-pemimpin berikutnya, tanah Irian tidak begitu diperhatikan pembangunannya. Ust. Fadzlan juga bercerita bahwa masuknya para misionaris ke tanah Irian justru melakukan pembodohan. Para suku-suku pedalaman dilarang mandi dengan air bersih. Boleh mandi asalkan mandi dengan lemak babi. Alasannya agar terhindar dari gigitan nyamuk. Ust. Fadzlan juga menampilkan foto-foto gambaran masyarakat pedalaman di sana. Mereka hidup bertelanjang. Bahkan dibiarkannya seorang ibu menyusu babi sambil menyusui anaknya. Tidur pun di kandang hewan. Dan ibu-ibu yang melahirkan dibiarkan saja lahir di bawah pohon. Gambaran tersebut memberikan kesan adanya kehidupan masyarakat yang tidak beradab. Maka, setiap mendengar Papua pasti akan teringat koteka atau perang suku dengan panah dan bertelanjang.
Karena kondisi nyata itulah membuat Ust. Fadzlan dengan beberapa rekannya melakukan dakwah ke suku-suku pedalaman. Dia memiliki misi untuk mencerdaskan orang di negeri ini agar dapat hidup lebih baik dengan dan mengenal kepada Allah dan ajaran Rasulullah Saw. Namun, pelajaran awal ia lakukan adalah mengajarkan mereka untuk mandi dan membersihkan diri. Bukan langsung mengenalkan Islam. Dengan modal sabun dan sampo, ia mandikan ribuan orang di sana agar bersih. Dan ternyata, sungguh para suku-suku pedalaman tersebut menjadi senang dengan yang diajarkannya mandi. Mereka jadi merasa lebih bersih dan harum.
Tidak hanya itu. Ust. Fadzlan dan teman-temannya pun berusaha mencarikan baju untuk mereka. Koteka harus ditinggalkan. Karena berpakaian yang menutup aurat lebih beradab ketimbang menggunakan penutup yang dianggap sebagai budaya tradisional. Berbagai upaya mereka lakukan untuk menutupi tubuh-tubuh masyarakat tersebut baik dengan mencari sumbangan maupun ke pemerintah pusat. "Saya kasihan dengan perempuan-perempuan Jawa yang modern dan baru belajar 'telanjang' dengan pakaian yang minim. Kami sudah pengalaman bertahun-tahun. Dan kami baru mulai belajar berpakaian yang lebih bermartabat,” selorohnya.
Dari upaya memanusiakan manusia dengan memberikan pelayanan dan rasa tulus memberi, Ust. Fadzlan pun mudah mengajak mereka masuk ke dalam Islam. Mereka diajarkan untuk mengenal tuhannya. Juga, diajarkan bagaimana hidup menjadi manusia yang sesungguhnya, yaitu kehidupan yang beradab dan berilmu pengetahuan. Untuk tujuan mendapat pendidikan yang pantas, banyak anak-anak suku pedalaman dikirim ke Jawa untuk disekolahkan dan belajar Islam. Ustadz yang mendapat penghargaan Tokoh Perubahan Republika 2010 ini akhirnya berhasil mengislamkan hingga 200 ribuan orang selama kurun waktu 25 tahun.
Dalam dakwahnya, langkah yang dilakukan Ust. Fadzlan tidaklah mudah. Dia harus menghadapi pendeta-pendeta yang tidak suka dengan cara beliau. Hampir berkali-kali ia harus dipenjara karena berhasil mengislamkan beberapa orang. Cerita-cerita unik pun ia sampaikan ketika menghadapi pendeta yang mengajaknya berdebat mengenai agama.
Yang paling ia tidak suka dalam menghadapi pendeta adalah dialog antar umat beragama. Menurutnya hal itu dapat membuat perkelahian karena hanya mempertahankan egoisme masing-masing. Yang dia lakukan adalah melakukan empat hal kepada pendeta yang mengajaknya berdebat. Pertama, hanya empat mata dan empat telinga. Kedua, tidak membicarakan Islam dengan kristen tetapi hanya membicarakan Injil. Ketiga, dilakukan di tempat penginapan dan ada tempat tidurnya. Dan terakhir sang pendeta yang membiayai tempat tersebut. Nah, ketika dalam dialog antara beliau dengan pendeta selalu sang pendeta terjebak oleh pertanyaan tentang Injil. Hingga akhirnya sang pendeta mengakui kesalahannya lalu masuk Islam. Mereka pun akhirnya mengikuti jejak perjuangan Ust. Fadzlan untuk melakukan dakwah membangun peradaban di tanah Nuu War tersebut.
*Reportase ini dituliskan untuk Catatan kegiatan di web www.proumedia.co.id

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.