Rabu, 15 Desember 2010

Ilusi Fundamentalisme dan Pluralisme

ilustrasi: http://fotolutu.blogspot.com

Fatamorgana adalah fenomena alam yang dikenal dengan bentuk bayang-bayang air pada tanah lapang akibat udara panas. Fenomena tersebut merupakan kejadian alam nyata (atau fakta). Namun, keterbatasan informasi dan pengetahuan dapat menyimpulkan bahwa adanya genangan air pada jarak kita memandang (ilusi optik).

Fenomena fatamorgana tidak hanya terjadi pada alam saja, agaknya, dalam memandang konfik di Indonesia fenomena tersebut juga terjadi. Seperti konflik yang sering mewarnai media masa pada dekade terakhir ini, yaitu fundamentalisme dan pluralisme
Fundamentalisme adalah istilah yang dipersepsikan sebagai gerakan kekerasan atas nama agama. Dan pluralisme adalah istilah yang dipersepsikan sebagai paham mengakui keberagaman dan sikap toleransi. Namun, apakah kedua istilah tersebut memang sesuai dengan kondisi yang ada di Indonesia?

Berbagai peristiwa seperti aksi penyisiran yang dilakukan ormas Islam, pelatihan sekelompok orang bersenjata yang diduga teroris, hingga terjadi pengeboman, semuanya merupakan fakta terjadi adanya. Namun, ketika fakta tersebut disampaikan dari sumber hingga penerima melalui alat komunikasi (media), disitulah opini terbentuk. Dengan kata lain, ilusi optik mampu mengubah persepsi seseorang. 

Fakta memang bisu. Manusia-lah yang menterjemahkanya menjadi bahasa opini. Yaitu, opini yang dibentuk oleh pelaku penyebar opini (baik media, maupun pihak-pihak yang menjadi alat propaganda) yang telah di framing dengan berbagai sudut kepentingan, entah kepentingan rating, mendapat sejumlah dolar dari negara superpower, bahkan kepentingan eksistensi para intelektual.  

Contoh, yaitu adanya video Ustad Abu Bakar Baasyir (ABB) yang sedang menonton video pelatihan sekelompok orang bersenjata di Aceh. Berbagai media dari sumber kepolisian memberitakan bahwa Ustad ABB sedang menyaksikan pelatihan terorisme untuk membuktikan kepada donator atas pemanfaatan dana tersebut. Dari video itu juga, pihak kepolisian menjadikannya barang bukti dan menyimpulkan bahwa Ustad ABB terkait aksi terorisme. Jika dicermati, bagaimana mungkin seseorang yang hanya sedang menonton video itu bisa terbukti sebagai tersangka? 

Video tentang Ustad ABB hanya satu dari sekian contoh proses pembentukan opini dari fakta yang terjadi. Banyak aksi-aksi yang dilakukan ormas Islam dianggap sebagai aksi kekerasan terhadap umat beragama lain tanpa melihat akar masalah sebenarnya. Sehingga, istilah fundamentalisme diberikan (dicap) kepada kelompok-kelompok tersebut sebagai upaya klasifikasi.  

Begitu juga dengan istilah pluralisme. Para pegiat pluralisme merasa sebagai pembela keberagaman (agama) di Indonesia hanya karena tidak berada pada posisi yang dianggap sebagai kelompok fundamentalisme. Sikap apriorinya terlihat dari pendapat mereka yang menganggap bahwa kelompok Islam yang dicap fundemantalisme merupakan kelompok ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Padahal Habib Rizieq, ketua FPI, yang dianggap sebagai kelompok fundementalisme mengatakan dengan tegas di sebuah wawancara televisi berita swasta bahwa ia sangat mengakui keberagaman agama di Indonesia. Ia mengakui kalau Indonesia bukan negara Islam, dan menghormati serta mempersilahkan penganut agama lain menganut kepercayaannya asal tidak mengganggu umat Islam. Jadi, pluralisme itu apa? Perlukah? Dan dimanakah batasan-batasan dari definisi kedua istilah tersebut? 

Hal inilah yang bisa jadi merupakan ilusi yang dipaksakan masuk menjadi opini masyarakat di negeri yang telah bertahun-tahun terbukti dengan sikap toleransinya. Ilusi yang mungkin dibentuk dari sumber yang sama, yaitu sumber yang memanfaatkan opini tersebut sebagai alat propaganda untuk memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wallahualam.

1 komentar:

  1. aku sepaham dengan analisamu..

    entah kenapa aku merasa ini menyudutkan Islam, ada bebrapa contoh seperti maslah qanun di Aceh, NGO luarnegeri tahu apa sih soal Aceh, tapi mereka mempermasalahkan penegakan syariat Islam akan mengganggu HAM, urusin tuh coba HAM di Palestina, New Zealand, atau masalah apartheid yg di sebagian belahan masih terjadi.
    maaf agak emosi.

    oiya sekalian aku promosi blog, heee
    rautwajah.wordpress.com

    BalasHapus

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger