Minggu, 03 Mei 2009

Pertemuan G20 dan Liberalisasi Keuangan Global

Ada sebuah diskusi yang menarik yang saya temukan dalam acara di Metro TV. Nama acara tersebut adalah Oppurtunity In Crisis. Acara yang saya lupa disiarkannya kapan, telah menambah khazanah pengetahuan saya di bidang ekonomi sektor finansial global. Acara yang di pandu Frida Lidwina ini sedang membahas dampak dan hasil dari pertemuan G20 di London Inggris pada tangal 1-2 April 2009. Acara yang di pandu presenter berita cantik ini juga mengundang beberapa pembicara ekonom kelas atas. Mereka adalah A Riawan Amin dari Ketua Asosiasi Bank Syariah Indoneisa dan Ibu Aviliani dari pengamat ekonomi.

Pertemuan G20 ini mencoba membahas bagaimana mengatasi krisis finansial global yang sedang dihadapi oleh negara-negara di dunia. Khususnya Negara-negara maju yang sebagian besar masyarakatnya bergerak pada sektor moneter. Dari Pertemuan ini pula menghasilkan dua kubu yang menghasilkan sikap yang berbeda-beda dalam meghadapi krisis ini. Kubu pertama yang di wakili Amerika, Inggris, Jepang termasuk Indonesia lebih mengedepankan agar adanya stimulus, karena stimulus merupakan cara yang efektif dalam menyelesaikan krisis financial global. Bebeda dengan kubu kedua yang di wakili Perancis, Jerman dan Italia yang menolak stimulus tersebut. Mereka lebih mengedepankan bagaimana caranya liberalisme total itu dapat di hentikan. Namun intinya bahwa pertemuan komunike G20 akhirnya menyerukan pengawasan system financial global.
Bagi Aviliani, komunike G20 ini belum tentu menghentikan pasar finansial yang liberal. Karena menurutnya tergantung dari kebutuhan negara masing-masing. Seperti yang dikatakan di atas, negara maju memiliki tujuan kebijakan ekonomi yang berbeda di banding Negara berkembang seperti Indonesia. Negara maju kehidupan sektor finansialnya lebih besar di banding dengan sektor rill. Sedangkan negara berkembang masih bertumpu pada sektor rill. Sehingga kita lihat ketika krisis finansial ini menyerang, negara-negara berkembang yang mayoritas berada di Asia masih cukup bertahan. Bagi Aviliani juga berpendapay bahwa Indonesia sudah tepat dalam menerima kebijakan stimulus. Karena stimulus tersebut sebagian besar dalam jangka pendek akan digunakan untuk konsumsi masyarakat saat kondisi krisis ini. Dan berguna untuk menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap positif.
Bagi Pak Riawan, Komunike G20 ini merupakan sebuah kesempatan dalam menyelesaikan krisis ini. Kalau dilihat dari dua kubu di atas, cukup jelas bahwa kubu yang menolak stimulus merupakan negara-negara yang masih mengandalkan sektor rill atau manufacturing dalam produktifitas ekonomi bangsanya. Kubu ini menurut Pak Riawan di harapkan menjadi perubah dalam system ekonomi saat ini yang masih di kuasai oleh negara seperti Amerika Serikat.
Sebenarnya seperti apasih sistem keuangan liberal itu? Dan apakah system tersebut akan diakhiri? Pertanyaan ini mengacu pada penjelasan mengenai bagaimana pasar yang diperjualbelikan oleh Amerika pada Suprime Mortage memiliki underlying (posisi fisik produk yang menjadi acuan) barang yang tidak jelas. Dan diharapkan dalam pertemuan komunike itu, semua produk-produk derivatif yang di keluarkan oleh setiap negara diketahui underlying-nya. Sehingga apabila ada investor yang mau membeli dapat di ketahui bahwa produk derivatif tersebut adalah sesuatu yang dapat dibayar. Berbeda seperti awal terjadinya krisis ketika membeli produk derivatif tersebut tidak di ketahui underlying-nya seperti apa. Yang akhirnya berdampak menjadi krisis keuangan yang menjalar ke seluruh dunia.
Yang menurut saya menarik dari diskusi ini adalah pada penjelasan Pak Riawan masalah bobroknya system moneter dimana system tersebut merupakan sektor unreal (on riil). Sektor inilah yang menjadi akar permasalahan ekonomi di dunia. Karena selama ini, uang yang berkerja adalah Money is an illusion. “Uang hari ini adalah ilusi” ungkapnya. “Uang adalah catatan-catatan dalam akuntansi perbankan yang tercatat dalam system computer. Karena ia ilusi, maka dapat di gelembungkan semau-maunya oleh pihak-pihak yang mempunyai monopoli yang berhak untuk menggelembungkannya.” Jelasnya.
Inilah yang terjadi dalam system keuangan kita. Bagaimana uang menjadi uang. Uang tersebut dapat digelembungkan menjadi tinggi sehingga tidak ada underlying-nya. Tidak ada patokan yang jelas terhadap uang tersebut. Menurut Aviliani bahwa seharusnya underlying sektor financial harus sesuai dari sektor riil. Saat ini perdagangan dunia hanya 2.5% yang mencerminkan perdagangkan secara riil dalam ekspor-impor, sisanya adalah murni derivatif dan spekulatif. Pak Riawan menambahkan bahwa kita itu hidup dari sektor riil seperti berkebun, manufacture, dan sebagainya. Namun yang mendapat keuntungan sebesar-besarnya adalah orang yang bermain derivatif. Sehingga maklum pendapatan perkapita yang semakin tinggi di Indonesia malah membuat jarak yang sangat jauh antara yang kaya dengan yang miskin.
Tidak hanya sekedar ilusi dalam uang. Pak Riawan juga menambahkan bahwa satu hal yang paling dasar sebenarnya adalah bahwa uang yang kita pakai sekarang tidak mempunyai underlying. Padahal kita harus tahu bahwa dalam setiap kegiatan ekonomi perlu sesuatu yang riil dan mempunyai underlying. Dan disinggung kalau dulu uang itu memiliki underlying emas sebagai patokannya. Alasanya mengapa penting mengaitkan nilai uang dengan komoditas riil, seperti emas, perak dan semacamnya, karena benda-benda riil tadi itu menjadi jangkar yang mengontrol uang yang ada di sebuah negara. Akibat jangkar tadi itu hilang, maka digunakanlah uang fiat (uang kertas) yang tanpa nilai intrinsik. Dimana uang fiat tersebut memiliki nilai yang berbeda-beda dari setiap negara. Namun sayangnya kesadaran akan pentingnya nilai uang tersebut dalam pertemuan G20 kemarin tidak di setujui oleh sebagaian besar negara peserta terutama Amerika Serikat. Karena menurut Aviliani apabila US dollar dipatok dengan emas akan diketehui cetak uangnya. Hal inilah yang dapat mengganggu stabilitas keuangan Amerika Serikat, karena selama ini sebagian besar nilai perdagangan dunia baik minyak dan sebagainya masih menggunakan patokan dollar. Bukan emas.
Kemudian dalam kasus krisis finansial global ini Pak Riawan sedikit menyinggung tentang prinsip-prinsip syariah. Apabila prisnsip tersebut di jalankan maka tidak akan terjadi yang namanya krisis suprime mortage. Dalam Islam dilarang dilakukan Debt Credit. Tidak boleh hutang di perjualbelikan. Sehingga inilah yang menjadi dasar permasalahan krisis.
Masih banyak lagi yang dibahas dalam diskusi ini. Sebagian besar yang dibahas adalah lebih kepada penyikapan dari kebijakan-kebijakan yang dihasilkan dalam komunike G20. Seperti, Tax heaven, Proteksionis, serta penambahan cadangan dana ke IMF. Sebagian yang saya jelaskan di atas adalah inti yang saya tangkap dari diskusi ini. Karena sebagian pembahasan yang lainnya saya masih belum paham untuk menjelaskannya, terutama istilah-istilah ekonomi lainnya yang sulit untuk diterjemahkan. Agar lebih jelas silahkan lihat videonya dibawah ini atau mendownloadnya.

download


download


download


download


download


download

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger