Maryamah Karpov. Dialah yang ke empat. Sebuah novel Tetralogi setebal 504 halaman yang saya beli awal Desember 2008 kemarin. Novel yang bergambar perempuan bermain biola ini memang telah ditunggu-tunggu oleh pembaca setia Tetralogi Laskar Pelangi. Harganya memang cukup mahal. Saya membelinya di Toga Mas Gejayan Yogyakarta dengan harga 63ribu. Novel tanpa kata-kata komentar para pengamat ini memang terlihat eksklusif. Kesan ekslusif ini dapat dilihat dari jenis kertas yang digunakan. Buram kekuning-kuningan dan sedikit terdapat motif kasarnya.
Seperti yang sebelum-sebelumnya, novel ini masih mengisahkan perjalanan sang tokoh utama si penulis. Berawal dari situasi ujian akhir dalam menyelesaikan masa studinya di Sorborne, Perancis. Cerita yang begitu dalam akan keyakinan dan kekuatan motivasi cinta membawakan alur perjalanan hidup yang cukup menggugah. Yaitu alur yang terbentuk dari lorong waktu akan sudut-sudut pengalaman pasca pulang dari Perancis. Tidak lepas juga Andrea mampu menggambarkan struktur sosiologis masyarakat Belitung saat itu. Sebuah gambaran yang begitu mempesona akan keindahan keragaman dan nilai etika ketika kita memasuki sebuah ruang sosial budaya.
Karakter-karakter yang di ceritakan inilah yang telah menggambarkan masyarakat Belitong. Dapat dikatakan, karakter yang aneh-aneh dari setiap tokohnya telah memberikan cerita ini hidup akan humor. Itulah Andrea, yang mampu menceritakan sedetail mungkin gambaran orang-orang di sekitarnya. Cerita yang penuh keajaiban akan kekayaan dan kekuatan naluri seseorang anak manusia. Ia mampu memecahkan hal-hal yang ajaib secara rasional dan sains. Sesuatu yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin bila adanya usaha dan perjuangan.
A Ling, bisa jadi menjadi inti dan tujuan dari cerita ini. Perjalanan yang panjang dalam pencarian cinta menjadikan novel ini menjadi sebuah cerita motivasi dalam menjalani tujuan kehidupan. Lihat saja, tanpa pengetahuan dan pengalaman ia mampu membuat sebuah kapal. Keinginannya yang kuat untuk mencari A Ling keseberang pulau ketika tanda-tanda keberadaanya mulai tampak, menjadikan segala macam ide gila muncul begitu saja. Dan dengan bantuan Lintang lah, si anak jenius temannya dulu yang putus sekolah, dengan teori-teori fisikanya mampu menghidupkan alam imaginatif Ikal yang menjadikan kekuatan ide dan mimpi menjadi kenyataan. Seakan mukjizat muncul kepada para hambanya yang sedang berada kondisi terjepit.
Yang uniknya adalah dalam menempatkan judul novel ini. Ketika dibaca dari awal hingga selesai, nama Maryamah Karpov bukanlah tujuan dari ceritanya. Nama itu merupakan sepenggal cerita nama seorang ibu dari perempuan yang bernama Nurmi. Nurmi-lah yang mengajarkan Ikal bermain biola. Bagi Ikal, bermain biola adalah sesuatu yang susah. Karena ia mengaku tidak memiliki bakat musik. Mungkin inilah maksud yang ingin diangkat oleh penulis dari judul dan desain covernya. Bahwa Kesulitan apapun dapat diatasi dengan mengubah cara pandang. Biola tersebut menjadi simbol novel ini dalam melihat cara pandangnya. Dengan melihat senar-senar biola dari sudut pandang aturan fisika akustik. Maka dengan kekuatan naluri dan perasaan yang kuat, akhirnya dia mampu menempatkan nada yang sesuai sehingga menghasilkan bunyi yang indah.
Terdapat sedikit kejanggalan dari novel ini. Bisa dilihat pada halaman 370 yang menjelaskan jarak dan waktu tempuh antara Belitong ke Kepulauan Karimata. Di situ tertulis berjarak 330 mil laut atau sama dengan 600 kilometer dan menggunakan skala 25 mil. Dan ditempuh oleh kapalnya sampai 3 hari. Sedangkan bila menggunakan peta nusantara yang ber-skala 1 : 5.200.000, jarak antara Belitong ke Karimata sekitar 156 kilometer atau 87 mil laut. Ketika kecepatan kapal kita ambil 5 knot (lebih lambat dari orang yang berlari) maka waktu tempuh yang dicapai sekitar 17 sampai 18 jam saja. Sehingga dapat dikatakan, Andrea salah dalam menempatkan angka dan skala yang digunakan. Dan yang menjadi pertanyaan, bila ini merupakan sebuah kisah nyata yang di novelkan, apakah dia benar-benar melakukan hal itu? Ketika jarak antara Belitong dengan Karimata begitu dekat, mengapa ia mengatakan dapat ditempuh dalam waktu 3 hari. Apakah ini memang benar-benar kisah nyata? Atau terdapat sedikit tambahan fiksi di dalamnya? Atau bisa jadi sang penulis melakukan kesalahan data dalam menuliskannya? Wallahualam.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.