Aku adalah pria oportunis yang tidakpernah menganggap cintanya sesuatu yangserius kecuali sekali. Menghayal seakan-akan khayalan itu hidup didepanku. Seperti menggenggam tanganku lalu mengajakku untuk terus berkhayal. Sedangkan kenyataan terkulai lemas dibelakang meminta aku untuk kembali.
Aku adalah pria konservatif yang lebih setuju dengan cinta terpendam. Tanpa bahasa, namun bermakna. Menanti jawaban arti cinta itu sendiri. Menanti agar aku tak salah langkah.
Tapi terkadang menyiksa batin ku yang terkadang hampa. Dan hingga kini aku hampir menemukan arti cinta itu.. Tapi jawaban itu tak pernah sempurna., Tak pernah "sempurna". Hingga aku berjalanhanya dengan "hakikat". Mungkin Allah akan memberikan jawabannya kelak. Jawaban dengan inspirasi dari suaraTuhannya langsung ke hati hambanya.
emang... manusia nggak bakal pernah sempurna...
BalasHapuskarena manusia memang nggak pernah mau n bisa memahami hakikatnya sebagai manusia...